FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Merasakan Langsung Jadi Reporter di Kuliah Jurnalistik

Merasakan Langsung Jadi Reporter di Kuliah Jurnalistik
Hasil tulisan mahasiswa meliput di wihara.

SURABAYA, JAWA TIMUR – Pada perkuliahan Jurnalistik di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNESA yang diampu oleh Bapak Andik Yuliyanto MPd, perkuliahan ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Tidak hanya belajar teori, mahasiswa diajak terjun langsung ke lapangan menjadi reporter.

Kegiatan di luar kelas ini menurut  Pak Andik sangat penting karena peristiwa di lapangan adalah suasana nyata yang alami dan tidak dibuat-buat dimana peristiwa penting, kejadian unik, informasi yang sukar didapatkan, narasumber yang tidak mau diwawancarai, dan beragam masalah lainnya menjadi tantangan tersendiri untuk mahasiswa. “Saya mewajibkan seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan jurnalistik untuk terjun langsung ke lapangan, mengumpulkan, menggali, dan menulis informasi yang didapatkan serta menuangkannya dalam karya jurnalistik yakni membuat majalah secara berkelompok,” katanya.

Bak kantor redaksi sebuah majalah, mahasiswa berperan sebagai jurnalis. Selama 16 kali pertemuan, seminggu sekali dalam 2 x 50 menit, Pak Andik  mendampingi mahasiswanya belajar tentang jurnalistik, perancangan kegiatan, pembagian tugas, terjun ke lapangan, proses penulisan dan editing, proses pencetakan, dan presentasi hasil karya.

Mahasiswa sedang melakukan wawancara dengan UMKM.

Ada tiga bentuk berita yang harus ditulis oleh setiap mahasiswa dari hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, yakni straight news (berita langsung saat kejadian); investigasi (berita yang membutuhkan pengamatan, penelitian, dan pengumpulan data terlebih dahulu sebelum menjadi tulisan); dan feature (berita mengenai suatu objek atau peristiwa yang bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan, serta mengunggah simpati atau empati pembaca). Pak Andik membagi kelas dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan berbagi peran, siapa yang akan menjadi reporter khusus straight news, investigasi terhadap suatu peristiwa atau fenomena, dan menulis berita feature.

Kegiatan ini menurut Pak Andik, terinspirasi dari pelatihan Modul 1 tentang pembelajaran aktif di perguruan tinggi yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS untuk LPTK, dimana salah satu materinya adalah memanfaatkan lingkungan menjadi sumber belajar yang menarik.

Selanjutnya, seluruh mahasiswa diminta turun ke lapangan untuk melakukan peliputan langsung. Mahasiswa dapat mengunjungi beberapa tempat yang menarik untuk ditulis seperti pusat kuliner, museum, pasar, pabrik, tempat ibadah, tempat wisata, dan pusat keramaian lainnya.

Pak Andik juga memberikan tantangan kepada setiap kelompok untuk mengunjungi tempat-tempat yang menantang untuk diliput. Misalnya: menulis aktivitas ibadah di tempattempat ibadah seperti di gereja, masjid, wihara, dan kelenteng.

Di beberapa tempat peliputan, Pak Andik mendampingi mahasiswanya. Misalnya ketika mahasiswa harus berkunjung ke gereja dan wihara, dia mendampingi secara langsung. “Banyak mahasiswa yang pesimistis bisa mendapatkan berita di tempat-tempat tersebut. Ternyata sambutan dari para pengurus tempat-tempat ibadah tersebut sangat welcome. Dengan senang hati para mahasiswa diajak berkeliling ke dalam tempat ibadah tersebut, mereka mendapatkan banyak sekali masukan tentang keberagaman dan toleransi beragama,” terangnya.

Setelah mendapatkan bahan berita, setiap kelompok kemudian memasuki tahap penulisan dan editing naskah. Tulisan mahasiswa harus sesuai dengan tiga bentuk berita yang sudah ditentukan sebelumnya. Dosen berhak melakukan editing naskah tulisan yang akan dipublikasikan. Naskah yang tidak sesuai akan di drop atau harus digantikan dengan naskah lainnya.

Selanjutnya setiap kelompok akan menyusun naskah yang sudah melewati editing dengan memasuki proses layout dan cetak. “Tugas akhir setiap kelompok berupa hasil jadi sebuah majalah terbitan setiap kelompok,” terangnya.

Beberapa majalah hasil karya mahasiswa.

Kegiatan perkuliahan jurnalistik dengan menulis berita hingga menghasilkan karya majalah wajib diselesaikan mahasiswa dalam satu semester. Penilaian mahasiswa didasarkan pada proses pemilihan angle berita, proses pengamatan di lapangan, wawancara, hasil tulisan, dan hasil cetak majalahnya.

Heni Swastika, mahasiswa yang didapuk menjadi pemimpin redaksi oleh teman-temannya menyatakan bahwa perkuliahan jurnalistik memberi manfaat yang luar biasa. “Kami harus merevisi tulisan yang akan diterbitkan  berulang-kali. Untuk satu naskah bisa tiga sampai lima kali direvisi oleh Pak Andik. Namun saat sudah jadi majalah merupakan kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi kelompok kami,” ungkap Heni yang menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Gagas Warta.

Menurut Pak Andik, hasil cetak majalah yang dibuat mahasiswa bisa digunakan sebagai portofolio setelah lulus kuliah untuk melamar kerja sebagai reporter 'betulan' di media. “Beberapa mahasiswa saya yang baru lulus sudah diterima bekerja di media-media besar di Jakarta dan Surabaya,” ungkapnya bangga. 
(


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.