FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Sekolah Desa, Prestasi Nasional

Sekolah Desa, Prestasi Nasional
Siswa kelas IV sedang praktik menimbang benda dengan satuan yang tidak baku. Walau di desa tetapi SDN 2 Lembah Sabil konsisten menerapkan pembelajaran aktif.

ACEH BARAT DAYA, ACEH – SDN 2 Lembah Sabil, berjarak 20 km dari pusat kota Blang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Sekolah yang terletak di Desa Menasah Sukon, Kecamatan Lembah Sabil tersebut, awalnya kurang dikenal dan bahkan tidak termasuk dalam daftar sekolah favorit atau berprestasi di kabupaten tersebut. “Sebelum menjadi mitra USAID PRIORITAS, sekolah kami sangat jarang mendapatkan pelatihan,” kata Juli SPd kepala SDN 2 Lembah Sabil.

Sekolah mitra kohor 2 ini mulai mendapat pelatihan dan pendampingan USAID PRIORITAS pada awal 2014. Dia menceritakan, dari metode ceramah yang sebelumnya banyak dilakukan para guru, kini terlihat kontras perbedaannya. “Setelah mendapat pelatihan dan pendampingan dari fasilitator, para guru menjadi bersemangat menerapkan pembelajaran aktif,” lanjut Juli yang menjabat kepala sekolah sejak 2013 lalu.

Sekembalinya dari pelatihan, para guru diwajibkan juga untuk presentasi dan berbagi ilmu kepada guru lainnya di sekolah. “Guru yang mendapat kesempatan ikut pelatihan, wajib melatih guru lainnya di sekolah. Lalu semua guru diajak menandatangani komitmen menerapkan pembelajaran aktif di semua kelas,” jelas Juli. Sekolah juga menyediakan ATK dan keperluan lainnya untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran aktif di kelas. Dananya diambil dari dana BOS.

“Guru lain juga diberi kesempatan untuk  duduk di kelas untuk melihat pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang telah mendapatkan pelatihan,” katanya.

Juli juga memiliki jadwal rutin melakukan supervisi dan observasi ke kelas. “Kegiatan supervisi kami lakukan untuk  membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai lebih efektif,” jelas Juli. Kiatnya, kepala sekolah sebelum melakukan supervisi memanggil guru untuk membahas persiapan pembelajaran. kegiatan ini dilakukan di luar jam mengajar.

“Saya melakukan diskusi dengan guru, misalnya membimbing guru dalam menyusun RPP, lembar kerja, media pembelajaran, memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai, dan lain sebagainya,” kata Juli. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan observasi ke kelas yang waktunya sesuai dengan kesepakatan antara guru dan kepala sekolah. Bagian akhir dari supervisi ini adalah berdiskusi bersama guru untuk memperbaiki pembelajaran ke depan menjadi lebih baik lagi.

Juli juga mengakui, studi visit yang dilakukan oleh USAID PRIORITAS memberi inspirasi kepada dirinya untuk bersama guru dan komite bekerja sama memajukan sekolah. Hubungan dengan komite sekolah sekarang juga terjadi perbedaan yang menyolok.

“Setelah pelatihan dan studi visit, kami duduk bersama komite dan bersepakat melakukan kerja besar demi kemajuan sekolah. Kami mulai dengan menyusun rencana kerja sekolah dan rencana anggarannya bersama, dan berlanjut sampai saat ini semua kegiatan sekolah melibatkan komite diikuti dengan semakin tingginya partisipasi masyarakat,” jelas Juli.

Siswa kelas IV mempresentasikan laporannya.

“Kami bersyukur USAID PRIORITAS melibatkan komite dalam pelatihan MBS, sehingga dengan mudah kami menyamakan visi dan misi dengan komite untuk membangun sekolah,” ungkap Juli.

Kini, komite dan masyarakat juga sering terlibat menjadi narasumber dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Misal, mengajarkan cara bercocok tanam, cara mencangkok tanaman, dan membantu dalam program budaya baca setiap Selasa, Rabu, dan Sabtu selama setengah jam. 

“Beberapa waktu lalu kami menyampaikan keinginan untuk merapikan taman sekolah dan membuat suasana sekolah lebih asri. Spontan saja, komite bersama masyarakat menyumbangkan keperluan untuk membuat taman, bahkan beberapa masyarakat turut menyumbang tanaman apotik hidup, pot, dan bunga-bunga, bahkan tenaga,” kata Juli yang mengakui bahwa transparansi sangat penting dalam membangun kepercayaan kepada masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya, Drs Yusnaidi MM, mengungkapkan rasa bangganya kepada sekolah. “Alhamdulillah, perubahan yang signifikan terjadi di SDN 2 Lembah Sabil, terutama dalam proses pembelajarannya. Siswa kini lebih berani, kritis, dan suka mengajukan pertanyaan. Sekolah menjadi lebih hidup dan menyenangkan, guru-guru juga termotivasi mengajar dengan baik,” kata Yusnaidi bangga. ”Ini tidak lepas dari peran kepala sekolah yang menurut saya sangat baik dan kreatif dalam menahkodai sekolahnya,” lanjut Yusnaidi.

Sederet prestasipun telah diraih oleh sekolah ini, diantaranya pada tahun 2016 menjadi juara 3 sekolah berprestasi tingkat kabupaten dari 106 SD lainnya, juara 3 sekolah bersih dan sehat tingkat kabupaten serta juara 1 kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten. Di tahun 2015, sekolah yang memiliki 115 siswa tersebut menjadi juara 1 lomba budaya mutu sekolah tingkat kabupaten, dan juara 2 lomba budaya mutu sekolah tingkat Provinsi Aceh sehingga berhak mewakili 3.286 SD di Aceh pada tingkat nasional.

Yang juga membanggakan sekolah ini menjadi juara 3 lomba budaya mutu sekolah dasar negeri tingkat nasional kategori pembelajaran yang diselenggarakan oleh Kemendikbud pada tahun 2015 lalu. Kini sekolah desa yang tidak terkenal itu, sudah diperhitungkan di kancah nasional. (Tmk) 


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.