FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Kembangkan Pembelajaran Kelas Rangkap untuk Sekolah Kecil

Kabupaten Blitar, Jawa Timur

Kembangkan Pembelajaran Kelas Rangkap untuk Sekolah Kecil
Pembelajaran kelas rangkap siswa kelas III dan kelas IV di SDN Suruhwadang 02. Mereka sedang belajar matematika, siswa kelas III belajar perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka dan pembagian bilangan tiga angka, sedangkan kelas IV belajar melakukan operasi perkalian dan pembagian.

Mengelola Sekolah Kecil

Hasil utama dari program penataan dan pemerataan guru di Kabupaten Blitar adalah teridentifikasinya sekolah kecil yang jumlahnya sangat banyak sehingga penyebaran guru menjadi tidak efisien dan banyak SD yang kekurangan guru kelas (berda-sarkan jumlah kelas, bukan jumlah siswa). Dari 222 SD (41% dari total jumlah SD) memiliki jumlah siswa rata-rata 16 siswa atau kurang (yang berada di bawah setengah dari standar pelayanan minimum/SPM).

Beberapa pilihan pembelajaran untuk sekolah-sekolah ini yaitu (1) dilaksanakan dengan kelas kecil, jumlah siswanya sedikit, dan banyak kelas diajar oleh guru honorer unqualified karena kurangnya guru kelas PNS, (2) dilaksanakan paralel, di mana satu guru mengajar dua kelas. Seringkali guru melakukannya dengan bergerak atau berpindah antara masing-masing kelas untuk mengajar, dan (3) pendekatan kelas rangkap, di mana pembelajaran terintegrasi di lebih dari satu kelas dengan jenjang yang berbeda, tetapi tugas-tugas belajar dibedakan. 

Kabupaten Blitar memutuskan untuk menggabungkan sekolah-sekolah kecil yang berada di dalam satu desa yang kedua sekolah terse-but masih dapat dijangkau, dan melaksanakan pembelajaran kelas rangkap khususnya untuk sekolah-sekolah kecil yang tidak mungkin untuk digabung. Kebijakan ini telah diformalkan dalam peraturan bupati tentang pembelajaran kelas rangkap yang dikeluarkan pada 8 Oktober 2015.

Strategi Implementasi Kebijakan

Sebagai langkah pertama, mereka melakukan pilot pembelajaran kelas rangkap di beberapa sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar mem-buat pelatihan pembelajaran aktif selama tiga hari untuk para guru kelas rangkap di sepuluh sekolah kecil. Berdasarkan komitmen dan kinerja mereka dalam pelatihan, dipilih empat sekolah pilot yang melaksanakan pembelajaran kelas rangkap dari sepuluh sekolah kecil, yaitu SDN Suruhwadang 02, SDN Doko 02, SDN Gadungan 03 dan SDN Sumber asri 06.

Sebagai tindak lanjutnya, para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah di empat sekolah tersebut, dilatih dan didampingi lima fasilitator kabupaten, untuk mengimplemen-tasikan pembelajaran kelas rangkap yaitu kelas 1 dan II, kelas III dan IV, serta kelas V dan VI, yang masing-masing kelas digabung menjadi satu dalam kelas. Program ini didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Blitar.

Pelatihan pembelajaran kelas rangkap diajarkan para guru untuk mempersiapkan Rencana Pelaksa-naan Pembelajaran (RPP) yang terpadu. Guru mengidentifikasi Kompetensi Dasar (KD) untuk setiap tingkat kelas, dan mempersiapkan tugas dan lembar kerja yang berbeda untuk setiap tingkat kelas. 
Dalam praktik kelas rangkap, pembelajaran dapat digabung menjadi satu kelas untuk dua kelas yang berbeda. Syaratnya, mata pelajaran yang sedang diajarkan sama dan RPP dapat digabungkan. Misalnya, pembelajaran kelas III dan IV yang digabung menjadi satu dan membahas pelajaran IPA tentang tumbuhan. 

Untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap, Kabupaten Blitar memberikan sejumlah pendampingan oleh fasilitator dan pengawas sekolah. Mereka juga membentuk Kelompok Kerja Guru (KKG) khusus kelas rangkap di mana empat sekolah bertemu secara rutin sebulan sekali untuk berbagi keberhasilan atau memecahkan masalah yang ditemukan di kelas.
Ibu Suprih Siswanti, Kepala SDN Suruhwadang 2 Blitar, yang seko-lahnya menerapkan kelas rangkap mengungkapkan banyak manfaat yang diperoleh dengan penerapan kelas rangkap. Selain membantu mengatasi keterbatasan guru, program ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.  

“Implementasi pembelajaran kelas rangkap di SDN Suruhwadang 2 sangat memuaskan. Kakak kelas juga dapat menjadi tutor bagi adik kelasnya saat pembelajaran kelas rangkap diterapkan,” tukasnya.

Bupati Blitar, Bapak Riyanto, mendukung pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap. Menurutnya, Kabupaten Blitar berhasil menerapkan kelas rangkap karena adanya komitmen bersama untuk menata guru dengan lebih baik sehingga hak siswa untuk belajar dapat terpenuhi dan merata.

Dampak Kebijakan

Tim USAID PRIORITAS melakukan kunjungan ke empat SD pilot pelaksana pembelajaran kelas rangkap. Letak sekolah ini berada di daerah yang relatif terpencil, masing-masing agak jauh dari yang lain; satu di selatan yang dekat dengan pantai, dan tiga di sebelah utara, di kaki bukit Gunung Kelud. Sekolah tersebut adalah SDN Suruhwadang 02, SDN Sumber Asri 06, SDN Doko 02, dan SDN Gadungan 03. Distribusi siswa di sekolah tersebut dapat dilihat pada tabel 1.

SDN Suruhwadang 02 memiliki empat guru PNS (termasuk kepala sekolah) yang mengajar empat kelas, dan dua guru paruh waktu (honorer), yang mengajar mata pelajaran khusus seperti agama dan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Ini adalah sekolah yang sangat baik, karena kepemimpinan kepala sekolah dan dukungan yang kuat dari pengawas sekolah. Pendampingan intensif diberikan oleh pengawas, dan didukung oleh fasilitator daerah. Pengawas sekolah awalnya mengunjungi sekolah setiap hari untuk memastikan pembela-jaran dapat berjalan dengan baik.

Sejak program ini dimulai, sekolah telah menerapkan pembelajaran kelas rangkap dengan pendekatan aktif sehingga kualitas pembelajaran tetap terjaga. Hal ini yang membuat orang tua tertarik untuk mendaf-tarkan siswanya ke sekolah ini sehingga siswa kelas I dan II jumlahnya meningkat signifikan.

Satu-satunya kekhawatiran yang ter-jadi adalah terkait implementasi program data pokok pendidikan nasional (DAPODIK) yang menen-tukan beban kerja guru dan terkait tunjangan profesi pendidik (TPP). Sistem saat ini tidak memungkinkan guru kelas kecil (di bawah 20) melaporkan secara akurat beban kerja mereka dan menerima hak TPP mereka.

SDN Sumber Asri 06  terletak di daerah pegunungan Kelud Utara ini, memiliki 25 siswa yang diatur dalam tiga kelas. Sekolah memiliki dua guru (PNS), termasuk kepala sekolah, dan tiga guru honorer. Sekolah ini didirikan setelah letusan Gunung Kelud pada tahun 1990, ketika dua sekolah yang terletak di lereng gunung ditutup masyarakat pindah ke lokasi baru. Para guru melapor-kan bahwa banyak anak-anak yang lambat-belajar, banyak yang mende-rita gizi buruk, dan mereka sering absen selama musim cengkeh panen. Sekolah ini juga memiliki dua siswa ABK. Akses menuju ke sekolah harus melalui aliran sungai sehingga sulit untuk dicapai di musim hujan.

Pembelajaran kelas rangkap telah dilaksanakan dan diterima dengan baik oleh guru, orang tua, dan ma-syarakat lokal, termasuk pengawas. Tapi para guru menyampaikan kesulitannya karena harus bekerja ekstra dengan mempersiapkan RPP untuk dua tingkat kelas, dan kekhawatiran mengenai isu DAPODIK di atas. 

SDN Doko 02 terletak di sebelah timur laut pusat Kabupaten Blitar, dan memiliki 47 siswa yang diatur dalam tiga kelas. Ada tiga guru PNS, termasuk kepala sekolah, dua guru pendidikan agama Islam dan guru olahraga. Sekolah telah menciptakan lingkungan belajar yang sangat baik, dengan membuat taman yang indah, ada taman bermain yang bersih dan rapi, serta ruang kelas yang dihiasi dengan hasil karya siswa dan guru. 

Hanya saja di dekat sekolah ini, sekitar 300 meter ada SD negeri lainnya yang juga cukup bagus. Fakta bahwa ada sekolah lain yang dekat, menimbulkan pertanyaan mengapa penggabungan sekolah tidak dianggap sebagai pilihan untuk sekolah ini. Sejumlah orang tua juga telah mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah tetangga untuk tahun ajaran mendatang sehingga jumlah siswa kelas 1 hanya ada dua anak. Meskipun ada praktik yang baik di sekolah ini, pembelajaran kelas rangkap tidak mungkin untuk dipertahankan jangka panjang, tanpa dukungan dan perubahan yang substansial.

SDN Gadungan 03 terletak di daerah yang relatif terpencil di sebelah utara, dan memiliki 38 anak yang diatur dalam tiga kelas. Sekolah memiliki rasa identitas masyarakat yang kuat dan didukung dengan baik oleh camat setempat. Dukungan yang sangat kuat untuk pembelajaran kelas rangkap sangat tampak di sekolah ini. Para guru menunjukkan bahwa mereka tidak menemukan masalah dalam pelaksanaannya. 

Kendala dan Masalah 

Ada beberapa masalah dalam implementasi pembelajaran kelas rangkap yang terkait aspek teknis pembelajaran dan manajemen kelas, terutama yang berkaitan dengan administrasi, yaitu:
Administrasi Kelas: Perlu pekerjaan tambahan yang diperlukan untuk mempersiapkan RPP, hanya tidak akan dilakukan berulang dalam tahun-tahun mendatang. Hal ini dapat diatasi dengan menye-diakan lingkungan yang mendu-kung di sekolah, di KKG, dan dengan pendampingan. Insentif untuk guru juga dapat membantu.

Administrasi Guru: Ada masalah dengan database DAPODIK. Guru bersertifikat harus meme-nuhi persyaratan minimum agar memenuhi syarat untuk tunja-ngan profesi pendidik  bulanan mereka. Peraturan sertifikasi dan sistem DAPODIK saat ini tidak memungkinkan guru untuk memasukkan kurang dari 20 siswa atau 24 jam pelajaran per minggu, yang berarti bahwa guru kelas kecil (termasuk  di sekolah-sekolah kecil) tidak dapat memenuhi syarat untuk mendapat TPP.

Faktor Keberhasilan

Berdasarkan pengalaman Kabupaten Blitar, faktor-faktor berikut yang diidentifikasi sebagai kunci keberhasilan pembelajaran kelas rangkap.

Sekolah yang berkomitmen: Sangat penting bahwa sekolah yang dipilih adalah sekolah yang memiliki komitmen dalam pelaksanaannya, dengan kriteria berikut: (1) memiliki jumlah guru yang terbatas dan siswa di bawah SPM, (2) sekolah terisolasi - setidaknya jarak dari sekolah tetangga terdekat sekitar 3 km atau dipisahkan oleh sebuah rintangan seperti sungai dan akses jalan yang sulit, (3) komitmen yang kuat dari kepala sekolah, pengawas, dan UPTD.

Analisis penyebaran guru: Pemetaan dan analisis kebijakan yang dilakukan dalam program penataan dan pemerataan guru meningkatkan potensi keberhasilan dari program kelas rangkap dengan membuatnya bagian yang terencana dari kebijakan pemerintah daerah.
Dukungan regulasi: Di ??masa lalu pada umumnya tidak ada kerang-ka peraturan yang jelas untuk mendukung kelas rangkap, baik di tingkat kabupaten nasional atau lokal. Pemerintah pusat sekarang telah mengembangkan peraturan untuk mendukung kelas rangkap. Sementara itu, kebijakan kabupaten setempat seperti di Blitar sangat meningkatkan peluang sukses dalam pelaksanaannya.

Pelatihan yang baik: Melaksana-kan pelatihan pembelajaran kelas rangkap yang dirancang dengan baik dan difasilitasi oleh fasilitator yang juga berkualitas baik. Pelatihan harus mencakup: (1) pelatihan dasar dalam pembelajaran aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM), dan (2) pelatihan kelas rangkap. Modul pelatihan dari USAID PRIORITAS (untuk belajar aktif) dan dari proyek sebelumnya, seperti USAID MBE (Managing Basic Education) untuk kelas rangkap dapat dipakai atau disesuaikan.

Pendampingan: Pelatihan harus ditindaklanjuti dengan pendam-pingan intensif oleh fasilitator untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap.
Sosialisasi: program harus dikomunikasikan dengan baik kepada semua warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk mendapatkan dukungan. 
Dukungan UPTD: UPTD memfasilitasi adanya Kelompok Kerja Guru (KKG) khusus untuk sekolah kelas rangkap. Melalui forum KKG, guru dapat mendiskusikan pengalaman keberhasilan dan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.
Asisten guru: Guru bantu (guru honorer) dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk mendukung guru kelas untuk membantu dalam pembelajaran di kelompok kecil, mendampingi Anak Berke-butuhan Khusus (ABK), anak yang lambat belajar, anak berbakat, dan lain-lain.
Insentif: Guru kelas rangkap memiliki beban kerja ekstra untuk mempersiapkan RPP dan persyaratan administrasi lengkap lainnya untuk dua tingkatan kelas. Daerah perlu memberikan insentif tambahan untuk guru.
Kepemimpinan stabil: Sangat penting bahwa kepala sekolah, pengawas dan guru tidak dipindah pada awal-awal pelaksanaan program.

Memasukkan Pembelajaran Kelas Rangkap dalam Renstra

Setelah melihat implementasi dan dampak pembelajaran kelas rangkap di sekolah pilot, dinas pendidikan memasukkan pembelajaran kelas rangkap ke dalam Renstra tahun 2016-2021. Sekolah pelaksana pem-belajaran kelas rangkap akan men-dapat dukungan dari dana APBD.  Berikut beberapa faktor yang membuat Kabupaten Blitar memasukkan pembelajaran kelas rangkap dalam Renstra Pendidikan.

1. Efisiensi Biaya dari Unsur Guru
Menurut Jumanto, Kepala Bidang Pendidik danTenaga Kependidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, pembelajaran kelas rangkap dapat menghemat sekitar 150 orang (untuk 50 sekolah), jika harus meng-angkat guru baru dengan menem-patkan K2 yang sebagian besar golo-ngan II b atau II c lulusan D2 dan D3 dengan gaji pokok Rp 1.750.000 per bulan. Berarti negara mengeluarkan anggaran Rp 262.500.000 per bulan atau Rp 3,15 milyar per tahun dan Pemkab tidak melakukan ini.

2. Efisiensi Biaya dari Unsur Sarana 
Untuk sekolah kecil disediakan ruang kelas sebanyak empat buah, jika sekolah tersebut ruang kelasnya rusak semua maka dibuatkan Ruang Kelas Baru (RKB) dengan jumlah maksimal empat ruang kelas yang baik setiap sekolah kecil, sehingga menghemat dua RKB per sekolah karena tidak perlu menyediakan enam ruang kelas. Nilai harga satu RKB sebesar Rp 121.750.000 (DAK 2015) sehingga satu sekolah berhemat Rp 243.500.000. Jika 50 sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran kelas rangkap tidak memerlukan tambahan RKB secara keseluruhan berhemat Rp 12,175 milyar. 

3. Peningkatan Kualitas Pembelajaran 
Pembelajaran kelas rangkap yang dilaksanakan dengan pendekatan PAKEM, dapat membuat kreativitas guru dalam mengajar menjadi lebih baik. Guru lebih inovatif memper-siapkan perangkat pembelajaran.

Pembelajaran kelas rangkap juga mendorong pembelajaran teman sebaya, kakak kelas membantu adik kelasnya belajar karena bahasanya lebih mudah dimengerti. Di SDN Suruhwadang 02, siswa kelas IV, Yoga, yang sebelumnya tidak lancar mem-baca dan menulis, setelah gurunya menerapkan PAKEM dan pembe-lajaran kelas rangkap, sekarang dia sudah bisa mengajari adik kelasnya.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar
Jl. Raya Sawahan, Blitar, Jawa Timur
Telp: (0342) 801725, 805829
Fax: (0342) 800608

Kontak Person: 
Drs Ari Sunaryo 
(Kasie Prasarana SD


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.