FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Pengalaman Mengajarkan Klasifikasi Makhluk Hidup

Pengalaman Mengajarkan Klasifikasi Makhluk Hidup
Prof Patta Bundu dan mahasiswanya menunjukkan laporan hasil klasifikasi dikotonom mahkluk hidup.

Oleh Prof Dr Patta Bundu 
Dosen Universitas Negeri Makassar

Materi klasifikasi makhluk hidup adalah bagian dari topik keaneragaman makhluk hidup pada mata kuliah Konsep Dasar IPA. Kita semua sudah faham bahwa klasifikasi makhluk hidup bertujuan menyederhanakan cara pengenalan makhluk hidup yang beraneka ragam didasarkan pada persamaan serta perbedaan ciri-ciri yang dimiliki. 

Makhluk hidup yang mempunyai persamaan ciri dikelompokkan dalam satu kelompok yang ditata menurut tingkatan tertentu berdasarkan banyak sedikitnya persamaan yang dimiliki. Mungkin sudah tidak ada masalah bagi dosen dalam mengajarkan materi ini, tetapi dari pengalaman dari tahun ke tahun, apalagi setelah terlibat sebagai fasilitator USAID PRIORITAS, ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan bahan berbagi untuk teman dosen dalam mengajarkan materi klasifikasi makhluk hidup. Skenario pembelajaran yang saya lakukan sebagai berikut:

1.    Menyampaikan tujuan pembela-jaran dengan cara dikotom atau klasifikasi biner. Diharapkan mahasiswa dapa mengklasifikasi makhluk hidup secara dikotom dan membuat Kunci Diterminasi.

2.    Sebelum melakukan kegiatan, saya antar mahasiswa untuk memasuki pembelajaran dengan kegiatan sederhana yakni mengelompokkan berbagai bentuk bidang datar menjadi dua kelompok, sebagai berikut:

Ternyata hampir semua mahasiswa mengalami kegagalan untuk mengelompokkan bentuk-bentuk gambar bangun ruang tersebut, karena jika hanya dibagi dua kelompok seperti biasa pasti ada bentuk yang tidak terakomodasi. Yang paling mendekati mereka membagi antara kelompok persegi dengan lingkaran (tapi bagaimana dengan yang “bulat panjang”). Padahal, kuncinya adalah dengan menggunakan kata TIDAK atau BUKAN, karena dengan cara ini pasti kelompok terbagi dua.

Hasilnya pun bisa beraneka ragam tetapi semuanya bisa diterima sebagai kebenaran. Misalnya, dikelompokkan menjadi “segi empat” dan “bukan segi empat”, hasilnya pasti terbagi dua kelompok. 
Mahasiswa juga mendapatkan “konsep baru” dalam pembagian yang mungkin tidak disadari selama ini bahwa dibagi dua tidak selamanya sama banyak. Pada contoh tadi, enam dibagi dua kelompok, bisa saja: 3 dengan 3, 4 dengan 2, dan 5 dengan 1.

3.    Setelah semua kelompok memahami betul maksud klasifikasi dikotom, maka setiap kelompok saya tugaskan mengambil sendiri 10 jenis tumbuhan (sebaiknya utuh akar, batang, daun, bunga jika ada) di halaman sekolah. Salah satu contoh tumbuhan yang diambil oleh satu kelompok dapat dilihat pada gambar 1.

4.    Masuk kembali ke dalam kelas lalu mulai membuat klasifikasi tumbu-han yang diambil secara dikotom dengan memperhatikan ciri-ciri yang dimiliki setiap tumbuhan, menggunakan LK yang tersedia. Pola klasifikasi sangat bervariasi bahkan jenis tumbuhan yang sama bisa mempunyai posisi yang berbeda pada setiap kelompok. Contoh klasifikasi dikotom yang dihasilkan dari salah satu kelom-pok (lanjutan dari data di atas) dapat dilihat pada gambar 2.

Selanjutnya, berdasarkan pola klasifikasi yang dibuat dapat diformulasi Kunci Determinasi setiap tumbuhan yang sudah diklasifikasi. Seperti pada contoh tadi:
1.    Jambu Air: berakar tunggang; tidak berdaun majemuk; batang keras; tidak bergetah; daun tidak bertangkai
2.    Keladi hias: Tidak berakar tunggang; daun tidak menjari; tepi daun tidak berduri
3.    Lidah Buaya: Tidak berakar tunggang; daun tidak menjari; tepi daun berduri
4.    Katuk: berakar tunggang; tidak daun majemuk; batang keras; tidak bergetah; daun bertangkai
5.    Bayam merah: Berakar tunggang; tidak daun majemuk; batang tidak keras; tepi daun tidak bergerigi
6.    Semangka: Tidak berakar tunggang; daun menjari
7.    Asam: Berakar tunggang; daun majemuk; batang tidak berduri
8.    Miana: Berakar tunggang; tidak daun majemuk; batang tidak keras; tepi daun bergerigi.
9.    Gendong Anak: berakar tunggang; tidak berdaun majemuk; batang keras; batang bergetah.
10.    Putri Malu: Berakar tunggang; daun majemuk; batang berduri

Ada beberapa keunggulan aktivitas ini antara lain: Pertama, siswa sangat leluasa untuk menentukan pola klasifikasinya, bergantung pada kecermatan mengamati perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh tumbuhan yang diklasifikasi. Kedua, siswa dapat menghargai hasil kerja temannya karena meskipun berbeda ada kemungkinan keduanya benar. Ketiga, siswa akan terbiasa melaporkan apa yang diamati bukan apa yang dipikirkan meskipun sebenarnya yang diketahui itu benar. 

Contoh: meskipun siswa tahu “tomat berbuah” tapi karena yang diamati tidak ada buahnya, maka pola klasifikasinya tidak boleh “berbuah” versus “tidak berbuah”.

Kelemahannya adalah kunci determinasi ada yang terlalu panjang (banyak ciri yang diungkap) dan ada yang terlalu pendek (sangat sedikit ciri tumbuhan yang diungkapkan). Berlatihlah dengan praktik-praktik yang baik di sekolah sehingga mengajar (guru) bukan sekadar pekerjaan anda, tetapi sebagai profesi anda.


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.