FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Mengatasi Kelangkaan Guru di Sekolah Terpencil

Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Mengatasi Kelangkaan Guru di Sekolah Terpencil
Ibu Jelliana Sitohang SPd, butuh waktu 1,5 jam perjalanan sulit menempuh jalan 7 km setiap hari untuk mencapai SMPN 5 Garoga, tempatnya mengajar di daerah terpencil.

Data dan Kebijakan

Memang tidak ada satupun desa yang terdaftar sebagai desa terpencil dalam nomenklatur kewilayahan Tapanuli Utara. Namun demikian sebenarnya masih banyak desa dengan akses yang sulit baik karena jauh, terhalang sungai atau memasuki hutan di lereng bukit barisan. Banyak desa yang tidak memiliki jalan yang memadai sehingga tidak bisa dimasuki angkutan umum. Kemajuan di desa ini sangat lambat, termasuk di bidang pendidikan. Dengan alasan tersebut, bupati menetapkan beberapa desa masuk kategori terpencil agar mendapatkan perhatian khusus. 

Seperti umumnya sekolah di daerah terpencil, terjadi kelangkaan guru karena jarang ada guru yang mau tinggal dan mengajar di sekolah tersebut. Hasil pemetaan guru yang dilakukan tercatat ada 44% sekolah SD dan SMP yang hanya memiliki guru PNS paling banyak setengah dari kebutuhan, dan 68 sekolah di antaranya hanya memiliki guru PNS sebanyak satu-dua orang saja. Tentu saja ini memperihatinkan. Sebagian besar karena berada di lokasi terpencil.

Tentu saja pembelajaran tidak akan bermutu di sekolah seperti ini. Dengan keterbatasan jumlah guru yang mengajar, membuat kinerja sekolah di desa terpencil sangat jauh ketimpangannya. Apalagi supervisi oleh Dinas Pendidikan atau pengawas juga sangat jarang. Untuk mengatasi kekurangan guru tersebut, Pemkab menyediakan anggaran yang cukup untuk merekrut guru honor daerah. Tersedia Rp 14 miliar untuk membayar guru honor tersebut. Di sisi lain penambahan tanpa diiringi perbaikan pemerataan membuat guru di Tapanuli Utara malah berlebih, khususnya di jenjang SMP. 

Dari data yang diolah menunjukkan bahwa Tapanuli Utara sudah kelebihan guru PNS sebanyak 86 orang, khususnya di beberapa mata pelajaran (mapel) seperti PKN, Bahasa Indonesia, IPS, Matematika dan IPA. Namun meski kelebihan di mapel tersebut, di sekolah lain masih ada yang kekura-ngan sehingga tetap dialokasikan adanya guru honor. Tentu ini sebuah paradoks yang harus diselesaikan, mengatasi kekurangan guru sekaligus mendistribusikan kelebihannya. 

Dukungan Kebijakan

Memahami kondisi tersebut, Bupati Tapanuli Utara, Bapak Nikson Nababan,  melalui Dinas Pendidikan menyusun kebijakan untuk memeratakan guru. Paling diutamakan oleh bupati adalah sekolah di daerah terpencil harus tercukupi gurunya. Kebijakan ini diputuskan setelah melalui konsultasi publik di aula kantor bupati 9 Maret 2015 yang dihadiri ratusan guru dan stakeholder pendidikan. 

Saat itu sekaligus dibuka pendaf-taran guru yang mau dimutasi ke sekolah terpencil. Tentu tidak mudah mengajak guru pindah sekolah, apalagi di tempat terpencil. Strategi yang digunakan Pemda adalah menjadikan mutasi sebagai promosi sang guru. Bagi mereka yang bersedia, Pemda akan memberikan fasilitas cukup termasuk rumah dinas, pelatihan dan bimbingan yang dibutuhkan dan diusulkan pemberian reward berupa tunjangan daerah terpencil dari APBD. 
Respon guru awalnya masih pasif. Baru setelah keluar persetujuan penggunaan APBD untuk tunjangan tersebut sebanyak satu kali gaji untuk sekolah sangat terpencil dan Rp 1,5 juta untuk sekolah terpencil, maka satu per satu guru PNS mendaftarkan diri. 

Dampak Kebijakan

Banyak guru yang kemudian tertarik tawaran ini. Apalagi di tempat lama guru sulit memenuhi kuota jam mengajar 24 jam akibat kelebihan guru. Sementara di tempat baru tersedia jam yang cukup, sehingga mereka yang sudah lolos sertifikasi memenuhi syarat untuk mendapat tunjangan profesi. 
Otomatis bagi guru tersebut bisa mendapat tiga kali gaji bila sekolahnya masuk kategori sangat terpencil. Ini yang kemudian membuat mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri, hingga Dinas Pendidikan membatasi kuotanya karena tidak ingin sekolah lama menjadi kekurangan guru. 

Hanya guru di sekolah yang kelebihan yang boleh mengajukan perpindahan. Sampai saat ini tercatat ada 103 orang guru yang sudah dimutasi secara sukarela ke daerah terpencil untuk jenjang SD dan SMP.  Salah satu guru yang mengajukan diri dipindah adalah Ibu Jelliana Sitohang SPd guru Bahasa Indonesia dari SMPN 2 Garoga yang mengajukan pindah ke SMPN 5 Garoga. 

Di sekolah sebelumnya karena guru Bahasa Indonesia berlebih, Ibu Sitohang tidak mendapatkan jam mengajar yang mencukupi sehingga tidak memenuhi syarat mendapatkan tunjangan profesi. Baginya, mengajar adalah panggilan sehingga beliau ingin bisa sepenuhnya mengajar setiap hari. Tawaran Dinas Pendidikan untuk mengabdi di tempat yang baru yang masih kekurangan guru langsung disambutnya.

Butuh 1,5 jam perjalanan sulit menempuh 7 km setiap hari menuju sekolah tersebut. Karena sarana jalannya belum bagus, angkutan umum tidak bisa menembus. Hanya RBT (sebutan untuk ojek) yang bisa mengantarkannya masuk hingga lokasi sekolah. Suaminya, Bapak Hasudungan Sinaga pun akhirnya menyusul ikut pindah dan menjadi guru olahraga di SMPN 5 Garoga. 

Tapi ini bukan hanya persoalan kesejahteraan, di dalamnya Dinas Pendidikan mempertaruhkan mutu. Guru-guru yang disetujui untuk mendapat promosi melalui mutasi diutamakan yang sudah lolos ser-tifikasi dan telah mendapatkan pela-tihan, bukan guru sembarangan se-hingga mutasi ini diharapkan akan membawa perubahan baik dalam pembelajaran. Ini akan membuat sekolah terpencil diharapkan bisa mengejar ketertinggalannya dengan sekolah lain. 
Sebagai guru-guru yang pernah dilatih, maka pembelajaran di kelas barupun berubah dan semangat belajar anak-anak terpencil menjadi bertambah. Prestasipun kemudian diukir. Pada tahun 2014/2015, SMPN 5 Garoga berhasil menjadi juara beberapa cabang olahraga di tingkat kecamatan. Banyak contoh serupa yang dialami guru-guru hasil mutasi ke daerah terpencil. Bahkan kehadiran Ibu Sitohang dan Bapak Sinaga yang juga aktif di masyarakat desa, dianggap pahlawan karena banyak melakukan perubahan. Bahkan masyarakat meminta supaya pengabdian mereka tidak hanya tiga tahun seperti yang sudah ditugaskan. 
Bupati Tapanuli Utara, Bapak Drs Nikson Nababan sangat bangga mendengar kisah-kisah guru di daerah terpencil. Ini memang bagian dari visi beliau untuk mem-buka isolasi desa dan menghadirkan percepatan pembangunan disana, termasuk pendidikan. 
Hal ini mendapat pujian dari stakeholder di kabupaten karena baru sekarang kebijakan pemerataan guru ini bisa direalisasikan. 


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.