Daerah Mitra
FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Cepat Berubah Karena Kepemimpinan

MIN 1 Takalar, Sulawesi Selatan

Cepat Berubah Karena Kepemimpinan
Suasana kelas yang menyenangkan di MIN I Takalar.

Bapak Zulfikah baru saja pindah menjadi Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Takalar. Sebelumnya dia adalah Kepala Madrasah Ibtidaiyah Pattiro Banggae. Madrasah yang dulu sama sekali tidak dilirik, kini maju pesat selama kepemimpinannya. Masyarakat  lebih tertarik menyekolahkan anaknya ke MI tersebut daripada ke sekolah dasar negeri di desa tersebut. 

Kunci suksesnya adalah pelaksanaan modul USAID PRIORITAS secara konsisten baik pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah yang mencakup partisipasi masyarakat dan budaya baca. 

Kesuksesan ini kembali diulang Pak Zulfikah saat dia dipindah ke  MIN I Takalar pada April 2016.  Saat datang ke sekolah yang baru, hal yang pertama kali dia lakukan adalah mengadakan observasi dengan wawancara langsung dengan guru dan staf sekolah, rapat sekolah, dan menilik langsung semua sudut-sudut sekolah dan kelas. Setelah dua-tiga hari melakukan observasi, Pak Zulfikah  menemukan beberapa hal: guru masih belum memakai metode PAKEM dalam mengajar, hasil pembelajaran tidak terpajang, tidak ada program literasi,  media inovasi masih sedikit, kelas tidak terorganisasi, lingkungan belum dijadikan sebagai sumber belajar, belum ada papan RKAS, keterlibatan masyarakat minim, belum ada paguyuban kelas, program budaya baca dan lain-lain. 

Melihat kenyataan tersebut, Pak Zulfikah memimpin rapat untuk membuat perencanaan sekolah secara menyeluruh, mulai dari aspek pembelajaran, manajemen berbasis sekolah, literasi, sampai partisipasi masyarakat. Dengan fasilitasinya, para guru menetapkan target-target dan jadwal-jadwal perubahan secara cepat.  

Untuk mengubah pembelajaran, Pak Zulfikah yang merupakan fasilitator daerah USAID PRIORITAS ini  langsung turun sendiri memimpin KKG internal madrasah seminggu sekali.  Selama KKG internal tersebut, Pak Zulfikah membimbing pembuatan RPP, melakukan permodelan mengajar dan  memfasilitasi simulasi berdasarkan metode PAKEM. Setelah satu kali KKG pembelajaran, hari berikutnya dia meninjau kelas, mengawasi dan melakukan pembimbingan  bahkan melakukan team teaching dengan guru yang dibimbing. KKG internal berikutnya berupa evaluasi atas RPP, model mengajar, atau hal-hal yang penting seperti pembuatan media dan sebagainya.  

Untuk manajemen berbasis sekolah, dia mengadakan rapat dengan orangtua siswa. Dia memberikan data-data keuangan secara terbuka kepada para orangtua dan berjanji  melaporkan semua bentuk program dan keuangannya kepada mereka. Orangtua akhirnya sepakat membentuk persatuan orangtua peduli sekolah (Popsa) dan organisasi tersebut berdiri di tiap kelas. RKAS dan laporan keuangan dipajang di dinding sekolah.  

Untuk literasi, sekolah menjadwalkan membaca 10 menit sebelum pembelajaran tiap hari, mendirikan bengkel membaca yaitu pembimbingan khusus bagi yang kurang bisa membaca dengan salah seorang guru diberikan tanggung jawab penuh, mengadakan bazar buku per tiga bulan sekali bekerjasama dengan penerbit; lomba baca, membaca massal tiap hari Jumat selama 30 menit.

Agar kelas berubah, maka tiap kelas juga diberikan slogan karakter tertentu; kelas I disebut “kelas pelayanan prima “, dengan karpet, meja dan ruangan yang ditata sedemikian rupa agar siswa yang baru pindah dari TK menjadi kerasan sekolah; kelas II disebut kelas calistung, kelas III prakarya, kelas IV karya inovatif, kelas V visual audio, kelas VI kelas media inovatif. Nama-nama tersebut adalah tema sekaligus mencerminkan apa yang harus diutamakan dikelas  berdasarkan tema itu. Dengan strategi ini, setiap kelas kelihatan nyata berbeda  dan memiliki karakter khusus yang menyenangkan siswa untuk belajar.  

Agar kelas semakin baik, diadakan juga lomba adiwiyata kelas tiap bulan. Tiap kelas berlomba untuk menata ruangan dan luar ruangannya. Mereka berlomba membuat bunga-bunga yang dipasang di pot-pot kecil dan  botol-botol aqua dan digantung di dinding-dinding luar kelas.  Bunga-bunga dan pohon-pohon yang ditanam membuat sekolah menjadi kelihatan lebih asri dan rindang.  
Di dalam kelas juga dibuat sudut baca, sedang diluar kelas dibangun gazebo atau taman baca, green house, kantin kejujuran, air mancur besar di tengah madrasah, air mancur kecil-kecil di depan kelas, kebun anggrek dan pengembangan dan kegiatan baru lainnya yang membuat sekolah kelihatan berubah total dalam waktu singkat. Dari yang dahulu terasa kering, menjadi semarak. Dari yang kurang banyak kegiatan, menjadi penuh kegiatan kreatif.   

Menurutnya untuk mengubah itu semua dibutuhkan strategi mengatur keuangan dana BOS dengan baik, membangkitkan semangat kebersamaan dengan para guru, dan memompa semangat orangtua siswa untuk terlibat dalam kegiatan madrasah. “Harus pandai-pandai mengatur keuangan dan menggunakan dana BOS agar tetap sesuai juknis namun harapan kita terhadap sekolah tetap tercapai,” jawabnya.  

Saat Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasei Penmas) berkunjung tiga bulan setelah pak Zulfikah menjabat, dia sangat terkejut dengan perubahan yang terjadi di madrasah tersebut. “Kasie Penmas yang berkunjung ke madrasah menjadi sangat terkejut melihat perubahan madrasah yang bergitu drastis,” cerita Pak Zulfikah. 

Ternyata dana yang terbatas mampu membuat madrasah bisa berbuat banyak dari segi perwajahan. Apalagi dalam segi pembelajaran, banyaknya pajangan dan pengelolaan kelas yang berbeda telah membuat Kasie Penmas terpesona. 

“Setelah itu, dia mengusulkan agar semua madrasah se-Kecamatan Galesong studi banding ke sini, dan saya setuju saja. Kasie Penmas ingin semua madrasah meniru bagaimana mengelola keuangan yang minim tapi mampu membuat sekolah begitu banyak berubah dalam waktu yang singkat,” ujar Pak Zulfikah.   

Setelah semua madrasah berkunjung, rupanya Kemenag Takalar tertarik untuk lebih jauh menjadikan madrasah sebagai  tempat studi banding karena melihat perubahan yang begitu drastis dan cepat. Pada bulan keempat dan kelima setelah Pak Zulfikah menjabat, semua madrasah baik tingkat MI, Tsanawiyah, dan Aliyah se-Kabupaten Takalar melakukan studi banding ke MIN Takalar. 
Madrasah kecil ini telah membuktikan bahwa komitmen kepala sekolah menjadi pondasi utama perubahan sekolah. Kepala sekolah atau madrasah yang berkomitmen akan membuat madrasah berubah dengan cepat, demikian juga sebaliknya. “Saya bahkan mengeluarkan sebagian uang saya pribadi untuk pengembangan madrasah ini,” ujar Pak Zulfikah. 


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.